Senin, 05 Maret 2012

susah mendapatkan modal?

Menanggapi tulisan Bapak. Iskandarsyah Majid yang diposting melalui http://www.smeindonesia.com yang berjudul susah nya mendapatkan modal? saya ingin memberikan komentar mengenai tulisan bapak,, seperti yang kita ketahui peranan UMKM ( usaha mikro kecil dan menengah ) cenderung tidak mengalami perubahan yang signifikan dari tahun ke tahun. Artinya, jumlah UMKM berada pada kisaran 50 juta badan usaha pada tahun 2006 terdapat 49 juta sesuai catatan kementerian negara koperasi dan UMKM. angka ini berada di atas 99% dari total jumlah badan usaha di negara indonesia. ini berarti, kurang dari 1% badan usaha di negara kita merupakan usaha besar.UMKM yang berperan di tahun 2006 mengahasilkan lebih dari setengah produk domestik bruto yaitu sebesar 52,28% PDB atau senilai Rp 1779 triliun,, sementara usaha besar menghasilkan sisanya yaitu sebesar 46,72%  PDB atau sebesar Rp 11559 triliun. sungguh angka yang sangat besar untuk usaha UMKM yang ada di indonesia.

Hal ini berkaitan besar dengan Hadist Rasulullah SAW, dari Anas Bin Malik ra, beliau bermaksud menyuruh kita untuk berusaha mendapatkan modal, karena sesungguhnya mencari modal itu tidaklah sesulit yang kita fikirkan,, seseorang lelaki anshar tersebut dengan mengikuti perintah Nabi Muhammad SAW yang menjual dua barang kepunyaan lelaki anshar tersebut seharga 2 dirham kepada sahabat Nabi Muhammad SAW, lalu dari uang sebesar 2 dirham tersebut dia jadikan modal untuk membeli makanan dan sebuah kampak, lalu dia pergi ke hutan sesuai perintah nabi Muhammad SAW untuk pergi ke hutan dan menebang kayu, dan menjual kayu tersebut dan mendapatkan uang sebesar 10 dirham.

Artinya, jika kita mau berusaha dan juga dengan niat yang tulus serta ikhlas, kita bisa mendapatkan modal lebih mudah dari yang kita fikirkan tanpa harus meminta - minta. Dengan sesuatu yang kita punya kita bisa jadikan modal.

Selasa, 14 Februari 2012

Pengaruh Kemiskinan di Aceh

Assalmmualaikum Wr.Wb...

Saya ingin menulis sebuah tulisan tentang pengaruh kemiskinan di Aceh. Sebelum itu saya ingin perkenalkan diri saya terlebih dahulu, nama saya Maulana, saya berkuliah di fakultas ekonomi Unsyiah Banda Aceh. Saya tinggal di Aceh, tepatnya di Langsa bagian timur di aceh.

Ekonomi rakyat Aceh yang hancur dan tanpa arah adalah efek salah urus di lembaga-lembaga pemerintah. Sistem buruk masa lalu belum dibuang walau tokoh yang diidolakan rakyat telah duduk di tahta pemerintahan. Tanpa konsep, mungkin begitu layak disebut kinerja Pemerintah Aceh. Banyaknya program yang gagal adalah bukti ketiadaan konsep itu. Orang-orang yang menyebut dirinya ahli kini berkesempatan menentukan kebijakan. Namun perjalanan kesengsaraan masih dilalui penduduk Aceh. Menilik wajah ekonomi struktural di Aceh, orang-orang yang masih punya nurani akan bertanya, menjengkelkan untuk memberi sesuatu kepada pengemis, sama jengkelnya dengan tidak memberi sesuatu kepada mereka. Betapa tidak jelasnya konsep pemerintah dalam menata anggaran. Mereka gagal mengatasi masalah kesenjangan sosial. Ini semua akibat dari konsep ekonomi struktural. Maka, merajalelalah praktek monopoli, kleptokrasi, korupsi dan nepotisme. Para borjuis punya peranan penting dan penentu keuangan. Mereka memiliki jaringan informasi khusus dengan penguasa, mampu mempengaruhi keputusan politik dalam bidang ekonomi. Bahkan mereka kerap membayar penguasa untuk mencabut atau mengubah kebijaksanaan politik yang merugikan kepentingan mereka. Kelas borjuis dipelihara penguasa untuk memasok pendapatan ekstra para pejabat yang memberi atau memenangkan tender di pemerintahan.

Provinsi NAD menempati peringkat ke-7 dengan persentase angka kemiskinan mencapai 20,98 persen. Tingkat kemiskinan di Aceh masih lebih tinggi dibanding Bangka Belitung yang sebesar 18,94 persen, Gorontalo (18,70 persen), dan Sumatera Selatan 18,30 persen. Data dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 juga menunjukkan bahwa dari 183 kabupaten di Indonesia, Provinsi Papua memiliki kabupaten daerah tertinggal terbanyak, yakni 27 kabupaten. Angka kemiskinan itu muncul disebabkan adanya faktor aktifitas masyarakat tidak jalan, lahan usaha tidak ada. Berdasarkan hasil Survey sosial nasional (Susenas) menyatakan penduduk miskin di Indonesia meningkat. Demikian juga peningkatan penduduk miskin didaerah jelas meningkat.

Penyaluran dana APBD Aceh untuk tahun 2010 dan 2012 dapat dilihat langsung Ditjen Keuangan Derah Kemendagri

Peran pemerintah sebagai motivator, mediator, fasilitator dan penyandang dana untuk merangsang rakyat memperbaiki ekonominya amat dibutuhkan. Kita bisa membangun kekayaan alam dan kekayaan human interes secara bahu-membahu. Konsep ekonomi struktural harus diganti. Seharusnya pemerintah membangun sistem ekonomi dan manajemen serta profesionalisme kerja. Sistem ini harus memadukan SDM yang bermoral dengan pengelolaan SDA yang tepat arah dan tepat guna. Semoga kemiskinan segera berakhir di Aceh.